Categories
Main

Perunggasan Nasional Harus Bertransformasi

Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor, Arief Dar yanto, mengusulkan untuk mempertahankan produksi daging ayam agar tetap swasembada. “Kenapa program favorit kita selalu swasembada sapi, tapi ayam tidak, supaya jadi swasembada protein,” ungkapnya heran saat Seminar Nasional AGRINA Agribusiness Outlook 2017 di Jakarta, Kamis (15/12). Padahal, menurutnya, ayam dan telur merupakan protein hewani yang paling terjangkau harganya. Dengan kisaran harga Rp35 ribu/kg, daging ayam memiliki kandungan protein 18,5%. Sedangkan telur mengandung protein 12,5% dengan harga ratarata Rp23.500/kg. Ini termasuk paling murah dibandingkan sumber protein lainnya, seperti susu segar, ikan, dan sapi. Pertum buhan pasarnya pun di Indonesia paling tinggi, mencapai 5% per tahun.

Transformasi Perunggasan

Kendati menjadi sumber protein paling terjangkau, tingkat kon sumsi per kapita daging ayam Indonesia masih sangat ren dah. Data Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut, pada 2015 konsumsi daging ayam di Indonesia hanya 4-5 kg/kapita/tahun. “Data ini perlu kita cermati karena cukup rendah,” ujar lulusan University of New England, Australia, itu. Sementara, konsumsi riilnya sudah mencapai 11-12 kg/kapita/tahun. Ia mengingatkan, jangan sampai Indonesia seperti Afrika Selatan yang semula melakukan 40% efisiensi, tetapi saat ini malah dipadati impor ayam dari Brasil dengan jumlah yang sama, yaitu 40%. Indonesia butuh kepemimpinan yang kuat agar jangan sampai senasib dengan Afrika Selatan. Selain itu, menurut Arief, permintaan terhadap pakan ternak naik 10% per tahun sehingga produksi pakan 2017 diperkirakan mencapai 20 juta ton. “Tahun 2017 sangat bergantung kepada bagaimana cara kita mengantisipasinya, apakah progresif atau malah defensif. Kita harus belajar, lakukan bersama, dan melakukan perbaikan terus-menerus. Maka kandang kita bisa berkembang di atas rata-rata,” tutur pria kelahiran Jombang, 18 Juni 1961, ini yakin.

Faktor Penentu

Transformasi industri perunggasan, masih menurut Arief, ditentukan beberapa faktor, yaitu dari sisi permintaan, penawaran, dan kebijakan pemerintah. Permintaan naik karena pertumbuhan jumlah penduduk yang diikuti naiknya pendapatan dan semakin banyaknya penduduk kelas menengah. Urbanisasi dan usia harapan hidup tinggi juga menyebabkan permintaan komoditas dan produk peternakan, terutama unggas, semakin meningkat. “Tingginya keanekaragaman permintaan menuju high-value production (komoditas bernilai tinggi) tersebut akan mendorong terjadinya revolusi peternakan,” jabarnya. Faktor lain, perubahan pola makan dari biji-bijian dan sayur-mayur ke buah dan daging atau protein juga dari daging merah ke daging putih (ayam). Dan didukung harga yang terbilang paling murah dibandingkan daging lainnya, maka wajar bila permintaan terhadap produk ayam makin meningkat. Satu lagi pendorong permintaan adalah pertumbuhan supermarket, hypermarket, dan restoran siap saji (QSRs-quick service restaurants) yang pesat ikut mengerek permintaan makanan siap masak dan siap saji. Arief memperkirakan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningginya industrialisasi dan konsolidasi usaha akan berperan dari sisi penawaran. “Dulu 1970-an dada ayam ramping kayak peragawati, sekarang montok karena perubahan teknologi. Dan karena masyarakat menengah mendambakan konsumsi fillet dada ayam. Inilah livestock revolution, perlakuan organik atau tidak itu juga mempengaruhi nilai tambah,” ucapnya. Penawaran juga akan meningkat jika didukung peningkatan nilai tambah, semisal integrasi vertikal. Integrasi vertikal akan sangat efisien. Model usaha seperti kemitraan (contract farming) dan pembesaran (grow-out) akan menjadi sumber pertumbuhan baru dalam bidang peternakan. Di sisi lain, konversi lahan di Indonesia mencapai 100 ribu hektar per tahun sehingga ketersediaan lahan jadi sangat terbatas. Apartemen ayam bisa dibentuk sebagai solusi. Di samping infrastruktur, logistik juga mengalami keterhambatan sehingga mempengaruhi penawaran. “Ayam yang dipasarkan dalam bentuk live bird itu 80%, sedangkan sisanya dalam bentuk olahan,” ungkap Arief. Pemerintah pun dapat berperan dalam transformasi industri perunggasan, terutama dalam menentukan kebijakan. Arief menyesalkan, barubaru ini beberapa perusahan unggas divonis Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai terdakwa praktik kartel. Keputusan tersebut dinilainya cukup kontroversial karena bisa menghambat perkembangan ekonomi perunggasan nasional. Lain halnya ancaman dari WTO yang memenangkan gugatan Amerika Serikat dan Selandia Baru, bisa saja membuka pasar impor yang selama ini tertutup. “Ini bisa saja terjadi liberalisasi perdagangan, di negara maju sudah wajar ada kebijakan subsidi dan kerjasama perdagangan regional,” cetusnya.

Belajar dari Eksportir

Industri perunggasan Indonesia selalu menjumpai berbagai tantangan mulai dari input sampai ke pasar. Untuk itu strateginya haruslah tepat. “Kita harus melihat permasalah an From Farm to Table Business, dari proses input sampai market consumer,” ia mewanti-wanti. Dalam hal input, kualitas dan harga bibit ayam (DOC) yang berfluktuasi masih menjadi tantangan serius. Harga pakan juga tinggi, sementara bahan bakunya masih impor. Belum lagi ancaman penyakit yang seakan tak pernah berhenti. Infrastruktur perunggasan nasional masih kurang, terutama rantai dingin, rantai pemasaran yang panjang dan masih didominasi ayam hidup dan belum adanya standar kualitas turut mempengaruhi harga. Untuk sektor pemasaran, penerapan standar keamanan masih kurang, dan pasar masih terfragmentasi. Strategi yang tepat ialah belajar dari keberhasilan negara-negara eksportir seperti Thailand, Brasil, ataupun Argentina. Ia menyerukan, sudah saatnya kita berpola pikir ekspor. “Coba belajar dari Brasil, mereka punya kedelai dan jagung yang melimpah karena didukung kuat oleh pemerintah. Mereka juga melakukan produksi terintegrasi, bahkan berinvestasi dalam urusan teknologi. Jadi semua sektor diperhatikan,” pungkas Dosen Sosial Ekonomi, Faperta IPB ini.