Categories
Main

Efek Menerima Kebijakan Rayonisasi Pupuk

Berdasarkan pengalaman Abdul, pupuk yang menggumpal tidak bisa tercampur sempurna saat ditambahkan air sehingga menyulitkan saat aplikasinya pada tanaman padi. Pupuk jadi tidak bisa merata dan tidak bisa dicampur dengan komponen lainnya. Padahal petani Subang sudah terbiasa mencampur pupuk makro bersubsidi dengan komponen lain dari pupuk nonsubsidi. Petani yang sudah bertani selama 13 tahun ini merasa tidak kebe ratan untuk membeli pupuk yang harganya lebih mahal, asalkan kualitasnya bagus dan terjaga. Lantaran pupuk cepat lembek, petani pun lantas membeli pupuk satu atau dua minggu sebelum pemupukan. “Tapi terkadang, saat kita mau pakai eh di toko tidak ada.

Jadi, pemupukan padi bisa telat sam pai satu bulan lebih,” terang Abdul kecewa. Biasanya, sambung dia, petani selalu membeli pupuk setelah panen dan mema suki musim tanam. Keterlambatan pemupukan ini tentunya mempengaruhi produksi padi. Pertumbuhan tanam an padi jadi tidak seragam. “Jadi, nu trisi tanaman padi ada yang kebagian lebih banyak dan ada yang dapat kurang,” katanya. Tidak semua petani Subang merasakan dampak seperti itu. Tomi, petani yang me miliki sawah padi se luas 6 ha ini, me rasa tidak ada masalah dengan pupuk. “Semuanya lancar-lancar saja, bagus, saya tidak ada masalah de ngan pupuk,” komentarnya saat ditemui AGRINA.

Harapan Petani

Sebagai pengguna pupuk, Addin berharap pemerintah memberi subsidi tidak hanya pada pupuk makro primer saja, tetapi juga pupuk makro sekunder dan mikro. “Saya harap anggaran untuk bidang pertanian diperbesar sehingga bisa menyediakan pupuk berkualitas untuk petani,” cetusnya. Sedangkan Abdul, sebenarnya merasa tidak keberatan dengan pemberlakuan rayonisasi. Toh, menurut dia, lokasi pabrik lebih dekat sehingga diharapkan ketersediaan lebih terjamin. Namun yang harus diperhatikan, kualitas harus diperbaiki. Hal yang sama juga diutarakan Addin, perbaikan kualitas merupakan hal yang harus dilakukan produsen pupuk tersebut.

Lebih lanjut, Abdul menginginkan agar pupuk Kujang juga memproduksi SP36 seperti Petrokimia. “Di Pupuk Kujang belum ada, jadi masih beli TSP yang dari Petrokimia. Kalau masih susah juga, ya saya pakai yang dari Saprotan Utama. Memang agak mahal tapi hasilnya pada tanaman juga beda,” urainya membandingkan. Selain ketersediaan dan kualitas pupuk yang baik, Addin juga berharap harga padi dilindungi seperti zaman Orde Baru. “Kendala kita, kalau pakai pupuk nonsubsidi itu harganya luar biasa mahal. Yang ukuran satu kuintal harganya di atas Rp1 juta. Modal kami terbatas dan margin makin turun. Biaya produksi meningkat. Sekarang tidak tahu deh, tidak ada batas bawah dan batas atas. Standar harganya tidak ada, apalagi kalau tengkulak masih bermain, semakin hancurlah,” harapnya pada pemerintah.