Categories
Agribisnis

Amankah Pangan Kita?

Padi dan beras selalu disorot tajam karena menggambarkan langsung kinerja pemerintah.

Pemerintahan siapapun di negeri ini pasti sangat memperhatikan pemenuhan kebutuhan akan beras. Maklum, sampai hari ini beras masih menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Dan upaya diversifikasi pangan tersebut belum banyak mendatangkan hasil.

Jadi, wajar bila pemerintah Jokowi – JK berupaya khusus mewujudkan swasembada pangan, terutama beras, jagung, dan kedelai. Pemerintah mengklaim, produksi beras meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir dan tahun ini tidak perlu impor.

Kepala Pusat dan Sistem Informasi, Kementan, Suwandi menegaskan, sejak Januari 2016 hingga awal Oktober 2017 pemerintah tidak mengeluarkan rekomendasi impor maupun izin impor beras medium. “Berdasarkan data BPS, Januari hingga Agustus 2017 Indonesia impor beras 191 ribu ton. Tapi itu be ras pecah 100% (menir) sebanyak 188 ribu ton.

Sisa nya berupa benih dan beras khusus,” jelas Suwandi (6/9). Saat ini stok beras milik Bulog mencapai 1,53 juta ton. Stok tersebut, lan jut Suwandi, aman untuk memenuhi kebutuhan beras hingga April 2018. Sementara selama September 2017, stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) terpantau lebih dari 40 ribu ton per harinya.

Stok terendah terpantau pada 7 September 2017 dengan total stok akhir 43.409 ton. Setiap hari stok itu terus bertambah. Hingga 5 Oktober 2017, stok akhir beras terpantau sebanyak 53.947 ton.

Atur Harga

Mulyadi Hendiawan, Sekretaris Badan Ketahanan Pangan, Kementan, menyadari, beras termasuk komoditas strategis yang sangat mempengaruhi inflasi nasional. Karena itu penerapan harga eceran tertinggi (HET) menjadi salah satu opsi untuk menjaga stabilitas harga beras.

“Perlu keseimbangan harga antara produsen sampai konsumen atau petani-pedagang-masyarakat supaya harga stabil,” ujar Mulyadi dalam seminar publik “Mencari Kebijakan Beras yang Seimbang: Apakah HET Pilihan Tepat?” di Jakarta (7/9).

Meluncurnya kebijakan HET sempat menciptakan kegaduhan di ka langan pelaku usaha dan pengamat beras. Mereka melihat HET beras pre mium tak perlu ada. Namun peme rintah bersikeras HET beras medium dan premium harus ditetapkan. Berdasarkan rapat koordinasi (Rakor) Kemendag 24 Agustus 2017, HET di 8 wilayah pun meluncur. Untuk Jawa, Lampung, dan Sumsel, HET beras medium seharga Rp9.450/ kg dan premium Rp12.800/kg.

Daftar HET lebih lengkap bisa lihat tabel tentang penetapan HET beras (baca: Pilih Dua Pelaku usaha yang menjual harga beras melebihi HET akan dikenakan sanksi pencabutan izin usaha oleh pejabat penerbit. Tapi sebelum ditindak, pelaku usaha akan diberi peringatan tertulis sebanyak 2 kali oleh pejabat penerbit. Peraturan tersebut berlaku mulai 1 September 2017.

Permasalahan HET kini menghangat karena harga gabah di tingkat petani merayap naik sampai Rp6.000 – Rp6.500/kg (awal Oktober). Dengan rendemen 65% dari gabah kering giling, menurut Petrus Budiharto, praktisi perberasan, harga pokok penjualan menjadi Rp10 ribu di tingkat pedagang di Jakarta.

Digoyang Wereng

Kenaikan harga gabah mencerminkan kinerja produksi di lapangan. Yoyo Suparyo, petani kawakan di Pamanukan, Subang, Jabar, mengungkap keresahan petani di wilayahnya lantaran serangan wereng cokelat. Hama ini juga membawa virus kerdil yang mengakibatkan tanaman padi kerdil atau dalam istilah mereka, padi kena klowor. Padi seperti ini tidak bisa berproduksi.

Hebatnya serangan wereng cokelat tahun ini direkam IPB yang menerjunkan 279 mahasiswa S1, S2, dan S3 untuk melakukan pengamatan ke 100 kabupaten yang termasuk dalam 21 provinsi sentra produksi padi (14/8). Hampir seluruh daerah produksi padi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur rata-rata terserang wereng cokelat.

Serangan tertinggi terjadi di Jabar seperti daerah Nunuk, Lelea, Indramayu yang menanam varietas Ciherang. Seluruh kecamatan dengan total area sekitar 5.000 ha terserang virus kerdil hampa. Demikian pula seluruh kecamatan Siliyeg, Indramayu, dengan total sekitar 6.000 ha terserang wereng dan penggerek batang.

Dan masih banyak lagi daerah yang terserang. Jadi, amankah produksi padi kita sekarang?